Makrifat Kesaktian Syahadat Sejati Sariden Waliyullah Dari Pati

Makrifat Kesaktian Syahadat Sejati Sariden Waliyullah Dari Pati

Kesaktian Sariden Syeh jangkung Murid Sonan Kudus Sonan Kalijaga Wali Songo Di Pati Kayen Jawa Tengah

Kesaktian Syahadat sejati ilmu makrifat tingkat tinggi Sariden Syeh Jangkung Waliyullah Dari Kayen Pati Jawa Tengah- Saridin atau Syèh Jangkung adalah salah satu tokoh Islam ulama Waliyullah yang ada di Kabupaten pati di jaman Wali Sango. Beliau adalah orang desa dengan keluguannya sikap rendah diri sehingga sebagian murid dari Sonan Kudus Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan tempat dia belajar pada waktu itu meremehkannya. Namun siapa sangka di balik dengan sikap dan sifatnya itu ternyata keilmuan syeh jangkung membuat semua orang tercengang. Dengan keluguan yang tidak ketulungan itu bahkan dia sampai tidak menyadari karomah kesaktian yang Allah berikan. Bagi para Sufi/wali karomah dan kesaktian juga merupakan ujian dan itu bukan tujuan mereka.

Postingan kali ini kita bertemu beliau untuk belajar dan mengambil hikmah dari kisah para waliyullah di sekitar pesisir pulau Jawa. Kali ini kita ambil bab Syahadat di mana cerita yang tersebar menyatakan bahwa syahadat syech jangkung sangat luar biasa.

Mari kita mulai... Mungkin tidak banyak yang tau ketika syeh jangkung belajar ilmu syari'at di pesantren sunan Kudus. Dari yang pakpandir ketahui ternyata di waktu yang sama Syeh jangkung juga belajar ilmu Makrifat Hakikat pada Raden Said Kanjeng Sunan Kalijaga.

Suatu Yang tidak mustahil bukan?. Begitulah dunia sufi bahwa mereka itu tidak sesimple yang kalian bayangkan. seorang sufi/wali kadang kelihatan mondari mandir seperti orang kentir namun di waktu yang sama dia mngkin saja sedang towaf di Mekah atau malah mungkin sedang mondar mandir di alam blue print kehidupan. Jadi tidak perlu heran kalau ada para wali Allah bisa menebak Rezki jodoh dan mati seseorang karna mereka memang sudah di izinkan punya akses ke sana.

 

Kembali ke Syek Jangkung. Begitulah cara Syek jangkung menuntut ilmu. Kurang lebih nya sama kayak anak SD sekolah di masa pandemi. Jadi berguru tidak harus face to face dan jangan heran karna jika Allah menghendaki apa sih yang tidak mungkin?. Sedangkan anak anak kita saja di era pandemi ini belajarnya tidak face to face.Di waktu yang sama dia belajar matematika di sini dan juga sambil belajar piano di gurunya yang lain hanya pakai handphone dan tanpa ilmu apapun.

Kesaktian Syahadat Syek Jangkung Yang Tidak Terucap Dari Lisan

Suatu ketika Sonan Kudus hendak mengetes syhadat murid muridnya termasuk murid barunya Syariden. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.

 



 

Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.

Murid-murid Sonan Kudus Sebenarnya mempersoalkan kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Quran ana biashwatikum hiasilah Quran dengan suaramu. Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan.

Tiba waktunya giliran Syariden Syek Jangkung Di test. Waktu Sonan Kudus meminta Syariden bersahadat, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa. Tentu saja kecuali Sunan Kudus senyum-senyum ditahan melihat tingakah sariden. Kemudian ia berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.

 

Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia pilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.

Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.

Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.

Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.

 

Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan, samina wa athana -aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.

Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar datang berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan pengertian apa pun.

Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukkan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar saja.

"Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?" Sunan Kudus membuka pembicaraan sambil tetap tersenyum. "Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat.

Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjadi pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya."
Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.
"Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa."

Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin:

SONAN KUDUS : "Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?"

SARIDEN : "Takut sekali, Sunan."

SONAN KUDUS : "Kenapa kamu melakukannya?"

SARIDEN : "Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku."

SONAN KUDUS : "Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?"

SARIDEN : "Aku tahu persis itu, Sunan."

SONAN KUDUS : "Kenapa kau langgar akal sehatmu?"

SARIDEN : "Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi.

Yakni bahwa aku mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati."


SONAN KUDUS : "Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan membakar tenggorakan dan perutmu?"

SARIDEN : "Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati."

Sunan Kudus melanjutkan:

SONAN KUDUS : "Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?"

SARIDEN : "Maksud Sunan?"

SONAN KUDUS : "Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?"

SARIDEN : "Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri," jawab Saridin,

"Setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyaknannya, dengan tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda."

SONAN KUDUS : "Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan bunglon. Apa katamu?"

SARIDEN : "Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya." [ ]

Anda mungkin menyukai postingan ini