Lakukan Tafakur Agar Ibadah Menjadi Bernilai

Menetapi Tafakur– Untuk amalan kita bernilai, Kita harus mau melakukan Tafakur. Kenapa? kita itu manusia sok-sok keliru, sok-sok salah, kadang-kadang ngak pas. Biar pas apa? yok sering-sering kita renungi perbuatan Kita sendiri.

Lakukan Tafakur Agar Ibadah Menjadi Bernilai

(Tadi aku ngaji ngapain ya?.. niyatnya apa?.. Yang dilakukan apa?.. Di kampus tadi ngapain aja ya seharian?. Padahal aku punya tugas apa, aku cuma ngobrol aja berjam-jam). Itu namanya tafakur.

Kamu di ceramai tiap hari, itu ngak ada gunanya kalau isinya ceramah ngak nyambung sama hidupmu sehari-hari. Untuk bisa nyambung, apa? Tafakur.! Tafakur itu kayak sistem itu mencocokkan kompatibilitas-nya biar nyambung untuk hidupmu.

Misalnya tadi nasehatnya Syech Abdul Qodir Al jaelani,(Jangan amal untuk pamer!) Nah, itukan mencocokkan sama hidupmu. Kira-kira selama ini aku pernah pamer ngak ya, pamer dimana ya?, Motive nya memang pamer atau sebenarnya bukan pamer, Itu cuma (تحدث بنعم ) tahadduts bin ni’mah, misalnya..[Kamu kan suka begitu]

Kamu kan sukanya begitu, menceritakan kenikmatan atau itu cuma ah lebay aja tapi jan-jane yo pamer. Lho itu namanya tafakur, kamu mikir dirimu sendiri.

Peduli amat orang komentar apa, tapi sebenarnya itu, [Itu tafakur namanya]. Dan orang berilmu yang suka tafakur ini kan nilainya di banyak hadist kan di sebut lebih tinggi dari pada ibadah. Disitu kalau di Syech Abdul Qodir Al Jailani ada tiga jenis tafakur.

MENEPATI TAFAKUR

  1. Nilai suatu amalan itu tersembunyi di dalam hakikatnya. Untuk menemukannya di perlukan Tafakur.
  2. Barang siapa yang merenungi suatu perkara dan mencari penyebabnya dia akan memdapati segala sesuatu mempunyai bagian-bagian dan menjadi penyebab bagi hal-hal yang lain. Tafakur begini bernilai satu tahun ibadah.
  3. Barang siapa merenungi pengapdianya/ibadahnya lalu mencari sebab dan alasanya dan dia dapat menemukannya. Tafakur ini bernilai lebih sepuluh tahun ibadah.
  4. Barang siapa merenungi hikamah kebijaksanaan ilahi dengan kesungguhan untuk mengenal allah yang maha tinggi. Tafakur seperti ini bernilai lebih dari seribu tahun Ibadah. Karena inilah ilmu pengetahuan yang sesungguhnya.

Disitu kalau di Syech Abdul Qodir Al Jailani ada tiga jenis tafakur. Yang Pertama apa?.

Yang pertama : Merenungi sesuatu dan mencari sebabnya, mencari bagian-bagian nya sampai kemudian ketemu Allah. Aku bisa begini itu karena siapa ya?! ada peristiwa itu.. [itu di telusuri asal usulnya], iya sih semuanya memang skenarionya allah. Tafakur yang semacam ini, kayak ibadah satu tahun (katanya Syech Abdul Qodir Al-Jaelani.)

Yang kedua : Merenungi perbuatannya. Terus mencari akarnya. “Dayaku dari mana? Apa yang harus aku lakukan?.. Cocok apa ngak sama kehendaknya allah?” dan seterusnya..

Pos terkait